CHAPTER 14 : Pertemuan Rahasia & Kiamat Kecil Untuk Cora
Semilir angin di gurun sette tidak membuat semua orang langsung merasa sejuk, tetapi malah membuat panas bagi orang yang terkena hawa panasnya. di reruntuhan Gurun Sette seseorang menunggu sesuatu yang kita tidak tahu apa.
terdengar derit sepatu yang dihentakkan di tanah yang panas, seseorang dengan rambut panjang hitam legam masuk kedalam reruntuhan kemudian menatap tajam Pemimpin bangsa bellato yang sedang menunggu kehadirannya.
"bagaimana kabarmu ell dun tanta ?, apakah kau sudah menunggu lama disini ?" ucap seseorang itu sambil duduk di bongkahan batu yang berada disitu. "huh, kenapa lama sekali ?, apa yang kau inginkan dari kami ?" ucap tanta seraya tetap menatap tajam kearah orang tersebut dengan pandangan nanar.
"Santai saja, ga usah tegang gitu, kita telah berkerjasama untuk kemajuan bangsa kita ber2 bukan ?," ucap orang itu seraya mengadahkan tangan pertanda mempersilahkan duduk dibantu tempat tanta itu berdiri. "iy, aku tahu, cuman aku selalu merasa tegang bila bertemu denganmu Terry the Hybird" ucap tanta seraya duduk di batu yang di tunjuk bangsa herodian tersebut.
"aku ingin kau membunuh Phoenix" ucap terry dengan nada dingin dan menatap tajam tanta. "Phoenix ?, Lelucon bangsa cora yang menanti kehadiran phoenix dan silver ? hahahahhaha"ucap tanta dengan tawa yang cukup keras karena merasa terry sang archon dari herodian itu membuat canda yang berlebihan kepadanya. "Leluconmu sungguh menggelikan ?,hahahaha, Phoenix ? dan silver ? hanya bangsa cora yang mempercayainya" ucap tanta seraya tertawa keras karena menganggap apa yang dikatakan archon herodian itu adalah omong-kosong.
"aku serius" ucap terry seraya tetap menatap tajam tanta. "Wakilku sedang bertugas di ether, dia menemukan radith dewanmu sedang berbicara lewat bahasa cora dengan archon dari cora sSethia" ucap terry dengan wajah yang serius terhadap tanta. "APA !!!, JGN MEMBODOHIKU !!!" teriak tanta dengan amarah yang bertubi2 karena merasa di khianati.
"wakilku juga menemukan seseorang yang bernama phoenix disana, dia menggunakan jurus elit herodian force api" ucap terry sambil terus menatap tajam tanta yang sibuk berfikir tentang perkataannya. "hm.., jika perkataanmu benar, mungkin aku bisa mendengar berita dari jakotsu yang sedang berada di eter. lalu apa hadiah yang kamu berikan kepada kami jika kami telah membunuhnya ?" ucap tanta seraya memandang terry dengan pandangan dingin.
"untuk tahap awal, Chip War esok hari Milikmu" ucap terry dengan nada dinggin juga. "Maksudnya ??, aku tidak mengerti ??" ucap tanta dengan wajah yang bingung. "Archon ACC berada di eter dan tidak akan mungkin pulang untuk Chip War, dan bangsa cora akan mendekati masa kritisnya.
"Maksudmu ?" ucap tanta dengan muka yang masih mebingungkan, "Reyna sedang menyerang Markas utama Cora" ucap terry dengan pelan.
[MARKAS CORA]
"arghh..., Toloooongg..., Jgn.. Jgn sakiti aku" terdengar suara kepedihan dari bangsa cora yang diserang tiba-tiba oleh bangsa herodian. "huahahahaha..., Majuu.." teriak reyna menyuruh pasukkannya untuk menyerang markas HQ.
"Semuanya jgn panik, kita tidak boleh gegabah,dan kita harus mempertahankan markas kita" ucap archon baru cora SylarConan. semua patriot cora bertahan mati-matian didepan jembatan daratan spire guna mengehentikan laju musuh, darah para patriot semangkin banyak. bangsa cora yang baru saja berlatih untuk menjadi veteran mulai berlari keluar untuk bersembunyi. Sylar conan dengan gagah berani melakukan serangan - serangan force nya. namun pasukan herodian mangkin lama membuat bangsa cora semangkin terdesak.
Linch dewan archon mengisyaratkan agar pasukan Black Knight menahan serangan - serangan dari Striker Herodian yang terus menggempur barisan Black Knight. 1 demi 1 pasukan cora mulai berjatuhan. lantai tempat mereka berdiri bukan lagi berwarna putih ke abu-abuan melainkan sudah berwarna merah, darah dari temannya sendiri yang telah tumbang akibat serangan Reyna.
Reyna tetap menatap nanar karah barisan cora yang terus mempertahankan markasnya dengan segenap jiwa dan raga mereka mulai menampakkan kekesalannya ketika ia melihat banyak dari pasukan cora berhasil membunuh pasukan jarak dekat bangsa herodian yang mencoba masuk kedalam barisan mereka. "huh.. berikan Carberus nya kepadaku" ucap reyna kepada seorang accretia herodian yang sedang memakai carberus.
"dasar tidak becus, begini saja tidak bisa" ucap reyna seraya memasang Siege Kitnya. kemudian menembaki barisan cora dengan membabi-buta. "Pasukan Jarak Dekat MUNDURRR !!!!!" teriak Reyna seraya memerintahkan berberapa warior herodian untuk mundur karena terlampau dekat dengan sasarannya.
"SEMUANYA.. SERANNNGGG !!!! DOOM BLASSTT" teriak Reyna kepada para striker dan archer dari bangsa herodian. karena serangan mendadak itu Linch tidak dapat menahan serangan-serangan dari reyna dan para ranger herodian. "arghhhhhhh.." teriak nya di ikuti teriak dari black knight yang terkena serangan dari bangsa herodian yang bertubi - tubi. SylarConan yang berada tepat di belakang linch ikut terlempar jatuh kebawah dekat sesemakan.
SylarConan menatap sedih ketika melihat linch yang sudah kehilangan sebelah lengan dan kedua belah kakinya. "Tuan, sebaiknya kalian lari, kita belum siap menghadapi serangan mereka. bawa semua bangsa cora yang masih tersisa. jangan biarkan bangsa ini semangkin diambang kehancuran" ucap linch kemudian "arghh..." desahnya seraya menghirup nafas dalam - dalam kemudian terpejam dan tertidur untuk selamanya. "linch" ucap sylarconan menatap rekan seperjuangannya meninggal dalam pelukannya.
"ayo sylar, perkataan dia benar, kita harus bersembunyi terlebih dahulu" ucap seorang hero cora yang menjadi panutan bangsa cora yang bernama qadasha. qadasha dengan cepat menarik tangan sylar dengan cepat dan memerintahkan berberapa cora yang berada disitu untuk memberi tahu yang laiinnya untuk lari.
Namun. "tretet..tretett..., DOUBLE SLASH" terdengar suara dari belakang bangsa herodian yang membuat sylar dan qadasha berhenti dan berbalik untuk menatap siapa yang datang.
"Yodarkore ?" ucap qadasha seakan tak percaya.
BERSAMBUNG.....

0 komentar:
Posting Komentar